Posted in Buku, Detektif, Thriller

The Girl With The Dragon Tattoo

Judul : The Girl With The Dragon Tattoo

(Män som hatar kvinnor)

Tahun terbit : 2005

Penulis : Stieg Larsson

Genre : Thriller

Di usia 15 tahun, Stieg Larsson pernah berdiri ketakutan, menyaksikan tiga orang lelaki memerkosa salah seorang anak perempuan kenalannya, bernama Lisbeth. Peristiwa ini terus menghantui Larsson hingga bertahun-tahun setelahnya. Apalagi konon, Lisbeth tak pernah memaafkannya, meski Larsson sudah memohon-mohon.

Kisah ini kemudian, yang katanya menjadikan alasan Larrson menyematkan nama “Lisbeth” ke dalam salah satu tokoh dalam novelnya ini. Lisbeth dalam novel juga menjadi korban perkosaan.

Kebenaran ceritanya sendiri tidak dapat dikonfirmasi, sebab, malang tak dapat ditolak, Larsson malah meninggal sebelum novelnya sempat diterbitkan. Larsson meninggal di tahun 2004, dan The Girl With The Dragon Tattoo (TGWTDT) terbit setahun setelahnya.

TGWTDT merupakan novel thriller dari Swedia pertama yang saya baca. Meski membacanya tetap dalam bahasa Inggris (mana bisa lah daku berbahasa Swedish). Pengalaman pertama ini cukup membutuhkan penyesuaian di awal-awal. Sebab beda negara, beda budaya, kentara dalam semua karya.

Sama halnya, saat saya menonton serial TV asal Jerman, “Dark” (sudah ada yang nonton? Bagus deh). Berkali-kali harus bolak balik di-rewind, sebab saya susah hapal nama-nama orang Jerman. Belum lagi kalau subtitle ngaco, pasrah lah sudah, hanya mengandalkan mimik wajah.

Lanjuuut …

Meski mengalami sedikit gegar budaya saat membacanya, -plus gaya menulis Larsson ini cenderung membosankan di awal. Kalimat-kalimatnya panjang, deskripsinya terlalu bertele-tele- tapi saya harus akui novel ini sangat mencengangkan.

Bagus, maksudnya.

TGWTDT mengisahkan seorang jurnalis bernama Mikael Blomkvist, yang cerdas dan punya integritas. Mikael bekerja di majalah politik Millenium sebagai penulis.

Seorang milyuner bernama Hans-Erik Wennerstorm menggugat Millenium atas tuduhan pencemaran nama baik, karena artikel yang ditulis Mikael.

Dalam persidangan, majalah Millenium kalah gugatan, dan Mikael harus mendekam di penjara selama tiga bulan.

Saat itulah Mikael tiba-tiba dihubungi oleh seorang multi-milyuner bernama Henrik Vanger. Henrik, meminta kesediaan Mikael untuk menyelidiki hilangnya salah satu anggota keluarga Vanger, Harriet. Henrik merasa yakin bahwa Harriet, keponakannya yang menghilang di tahun 1966 itu dibunuh oleh salah seorang anggota keluarga mereka.

Henrik juga berjanji akan membantu Mikael lepas dari semua tuduhan dan cengkeraman Wennerstorm.

Henrik Vanger ini jika diibaratkan, mirip klan Cendana lah di Indonesia. Kekuasaan dan kekayaannya takkan habis oleh tujuh turunan, dan tujuh turunan setelahnya.

Mikael, akhirnya menyanggupi permintaan Henrik dan mulai menyelidiki misteri hilangnya Harriet setelah 39 tahun. Permintaan yang agak mustahil, sebab para saksi sebagian besar sudah tua, dan TKP sudah tak sama lagi.

Mikael dalam melakukan penyelidikannya, dibantu oleh Lisbeth Salander, perempuan muda yang tubuhnya dipenuhi piercing dan tattoo.

Lisbeth yang terlihat cuek, bergaya punk dan anti kemapanan membuat Mikael bingung, sekaligus kagum. Di balik penampilannya yang seperti anggota gangster (tapi imut), Lisbeth memiliki kemampuan hacking yang sangat canggih, plus photographic memory yang membuatnya mampu membaca cepat dan menyimpan banyak memori.

Bahu-membahu, mereka berdua kemudian menyelidiki kasus hilangnya Harriet, hingga ke Hedestad, kampung halaman Vanger.

Penyelidikan kemudian semakin rumit dan mengancam nyawa keduanya. Ada seseorang (atau beberapa orang) yang tidak senang dengan penyelidikan ini. Mikael dan Lisbeth tak hanya harus berpacu dengan waktu, namun juga tetap bertahan hidup.

Dari segi kisah detektif, sebetulnya TGWTDT tidak bisa dikatakan sebagai cerita yang “wah”. Pun begitu, ia unik, sebab jalinan teka-teki nya diwarnai banyak kejutan dan twist di akhir yang nendang banget.

Mikael bukan Sherlock Holmes atau Hercule Poirot yang tanpa pergi kemanapun, cukup duduk dan berpikir, bisa memecahkan masalah.

Mikael adalah jurnalis biasa, yang berusaha menyeimbangkan pekerjaannya yang sangat sibuk dan meluangkan waktu untuk bertemu dengan putri tunggalnya. Kisah cinta Mikael dengan pimpinan redaksinya di kantor juga bukan jenis romansa yang ‘maksa’. Jenis percintaan orang dewasa yang woles dan dibawa asik aja.

Lisbeth, saya kira yang menjadikan kisah ini begitu memikat. Lupakan tokoh perempuan cantik, berkulit halus, berdada besar (*eh) dan kutekan. Lisbeth adalah kebalikan semua itu. Masa lalunya yang tak jelas (pernah dipenjara) malah membuatnya tampak seksi. Diam, tenang, menghanyutkan, sekaligus misterius.

Jika pun ada kekurangan dari novel ini adalah deskripsinya yang bertele-tele dan kadang datar di beberapa halaman. Saya membayangkan, seharusnya Larrson melakukan self-editing sebelum bukunya terbit. Tapi tidak sempat. Hiks.

Oh ya, buat kalian yang malas membaca bukunya, boleh menonton filmnya. Ada dua versi, Swedia dan Amerika. Katanya yang Swedia lebih bagus (saya baru nonton yang Amerika).

Salam.

Fun Facts:

– TGWTDT adalah bagian dari Millenium Trilogy; buku kedua dan ketiganya adalah “The Girl Who Played With Fire” dan “The Girl Who Kicked The Hornet’s Nest”.

– Di buku kedua dan ketiga, masa lalu Lisbeth Salander sedikit demi sedikit terungkap.

– Versi Amerika baru satu film, sementara versi Swedia sudah lengkap 3 film.

– Pasca meledaknya Millenium Trilogy, kisah Mikael dan Lisbeth kemudian dilanjutkan oleh penulis lainnya. Tapi saya ga minat baca (pengumuman).

– Stieg Larsson sang penulis juga berprofesi sebagai jurnalis majalah Swedia “Expo” dan sering mendapat ancaman pembunuhan karena keberpihakannya pada kaum ekstrim kanan di Swedia.

Advertisements
Posted in drama, Thriller

Gone Girl

  • SPOILER ALERT –

 

Judul : Gone Girl

Tahun : 2014

Sutradara : David Fincher

Pemain : Ben Affleck, Rosamund Pike, Neil Patrick Harris

Genre : Drama/Thriller

Durasi : 149 menit

 

“What are you thinking? How are you feeling? What have we done to each other? What will we do?” – Nick Dunne.

p027pxn1.jpg

(sumber gambar klik )

 

David Fincher, sutradara film ini bukan anak kemaren sore. Juga bukan “an onion boy” alias anak bawang, beib. Film-film cihuy semacam Se7en, The Curious Case of Benjamin Button, Zodiac, Panic Room, Fight Club, The Social Network, semua lahir dari tangan dinginnya. Maka, ketika film ini rilis di tahun 2014, dan resmi dilarang tayang di Indonesia, serentak semua pecinta film rasanya kepingin berteriak,

“Apa-apaan siih …”

Saya ingat sekali, saat itu di grup Cinemags, salah satu komunitas dimana orang-orangnya lebih suka film ketimbang politik (eh), semua  meributkan hal ini.  David Fincher gitu loh … berani-beraninya antum larang. Hih.

Usut punya usut, ternyata rating Gone Girl terhitung “R-rated’ (untuk dewasa, mengandung konten kekerasan dan atau pornografi). Lembaga sensor di Indonesia ingin memotong satu adegan yang dianggap berbahaya, dan Fincher menolak. Alasannya akan mengganggu kesinambungan film. Karena tak ada kesepakatan, maka dengan resmi fim tersebut batal tayang. Hiks.

Tentu sebagai moviegoer, saya tak ketinggalan menonton film ini. Kumaha we carana, hehehe.

Setelah menonton filmnya, saya setuju dengan Fincher. Filmnya kalau dipotong malah akan mengurangi keindahan.

Gone Girl mengajak kita berkenalan dengan pasangan oh-so-sweet-banget-kek-gula Nick Dunne (Ben Affleck) dan Amy Dunne (Rosamund Pike). Nick itu ganteng, Amy itu syantik, mereka tinggal di rumah besar yang pantas masuk desain HOME,  Oh relationship-goals beud lah, kalo kata kaum milenial yang kalo ga apload instastory di IG berasa ketinggalan ibadah fardhu.

gone-girl.jpg

(sumber gambar klik )

 

Tapi tunggu dulu … di balik foto Idulfitri yang menenangkan dan penuh cinta, sejatinya tersimpan hubungan suami istri yang mungkin tak harmonis HAHAHAHA (menurut analisa seorang emak di jagat Facebook).

Nick dan Amy ternyata tak seharmonis itu. Amy adalah anak dari pasangan suami istri penulis cerita anak terkenal, Amazing Amy. Amy adalah icon anak yang perkembangan hidupnya didokumentasikan oleh papap dan mamam-nya ke dalam lembaran dongeng. Amy anak istimewa, lahir sebagai incess yang seharusnya hidup nyaman, gemah ripah loh jinawi, sampai tujuh turunan.

Nick, juga penulis. Pesona Nick yang aduh-ganteng-pisan tentu membuat Amy klepek-klepek. Kehidupan mereka di New York, awalnya bahagia, hingga kabar dari kampung halaman mengubah segalanya.

Ibunda Nick sakit, sehingga Nick mengajak Amy pulang ke kampungnya, di North Carthage, Missouri. Kepulangan mereka ternyata tak hanya sementara, melainkan selamanya. Nick memutuskan menetap di kota kecil tersebut, melepaskan pekerjaannya di kota dan menjadi dosen bahasa di salah satu kampus. Hingga Ibunya meninggal pun, Nick masih berkeinginan tinggal di sana. Bersama Margo, saudara kembarnya, Nick mendirikan sebuah bar tempat nongkrong bapak-bapak, bernama “The Bar”.

Amy, si gadis kota yang tak biasa dengan kehidupan kampung menjadi gerah. Kesulitan keuangan kemudian menyulut pertengkaran demi pertengkaran. Mereka mulai bisa melihat sifat asli masing-masing. Nick mulai malas dan berselingkuh dengan salah satu mahasiswanya di kampus.

 

*err … pelajaran penting kepada mereka yang menganggap pernikahan itu tujuan akhir dan kepingin menikah biar berhenti ditanya-tanya, atau kepingin menikah muda sebab itu ibadah (tanpa mikir panjang), tolong … tolong … mikir lagi*

 

Di hari ulangtahun pernikahan mereka yang ke-lima, Amy menghilang.

Hasil penyelidikan para petugas polisi, mengindikasikan bahwa Amy telah diculik dengan tindak kekerasan dari rumahnya sendiri. Nick yang kebingungan, kemudian harus mendapati kenyataan bahwa ia menjadi salah satu tersangka penculikan/pembunuhan istrinya sendiri.

Kasus ini kemudian semakin menggemparkan sebab orangtua Amy mengundang wartawan, mengadakan konferensi pers dan mendirikan website dukungan terhadap upaya pencarian Amy.

Nick-Dunne-gone-girl-37527533-680-478.jpg

(sumber gambar klik )

Bak kasus yang heboh dilempar oleh akun Lambe Turah, Nick menjadi semakin terpojok. Semua gerak-geriknya diawasi dan dikomentari dan dianalisa. Bahkan ada salah satu presenter acara gossip yang membahasnya terang-terangan di TV. Apalagi kemudian, hasil penyelidikan polisi mengungkapkan bahwa Amy telah menulis dalam buku diarinya, tentang perasaannya yang tertekan, tentang kecurigaan Nick akan membunuhnya. Bahwa Amy merasa depresi dan terus menerus berpikir untuk bunuh diri. Bahwa Amy kemudian membeli senjata.

Nick, yang merasa tak bersalah, kemudian menyewa jasa pengacara terkenal, Tanner Bolt. Dibantu oleh Margo, kembarannya dan Officer Boney, detektif yang bersimpati kepadanya, mereka kemudian berusaha mengembangkan penyelidikan mereka sendiri, kemana sebenarnya Amy pergi.

Sebagai penonton, perasaan kita akan diombang-ambing tak tentu. Ini mana sih yang bener? Amy atau Nick? Nick yang bunuh? Tapi kok

*demikianlah suara hati saya selama menonton, haiyaaah

 

Hingga paruh pertama durasi film, Fincher mengemas adegan demi adegan dengan sabar untuk membuat penonton bertanya-tanya. Duhai, apakah yang terjadi? Paruh kedua film, Fincher menghantam dengan rentetan adegan yang sering membuat megap-megap.

Aduh, jadi … aduh

*ini nonton pelem apa mau disuntik vaksin yak*

Percintaan Nick dan Amy, perjalanan hidup mereka yang nampak harmonis, semuanya palsu. Sebab kemudian terungkap bahwa Amy bukanlah Amy yang selama ini Nick kenal, bukan wajah cantik yang menipu penonton dari awal film.

Damn you, woman!

 

Nick-and-Amy-Dunne-gone-girl-37527532-680-478

(sumber gambar  )

Amy adalah perwujudan perempuan yang bisa melakukan pelbagai cara untuk membalaskan sakit hatinya akibat perlakuan seorang lelaki. What I mean with “pelbagai cara” is literally, anything … and even things we could never done; In dreams or real life.

Melihat sosok Amy, saya ngeri sendiri betapa salahnya konsensus yang menyatakan bahwa “wanita adalah makhluk lemah”. Salah bro! Tonton film ini untuk membuktikannya.

Pertengahan film sampai ending, tak tega saya membocorkannya, lebih baik kalian tonton sendiri. It is just too good to be shared, better you experience it yourself.

Saya tak menemukan sedikit pun celah untuk membeberkan kelemahan film ini. Plot mengalir dan kuat, perpindahan adegan mulus (bahkan di adegan vulgar yang bikin linu karena …), akting para pemain jempolan (terutama Rosamund Pike), scoring music cukup.

Film yang bagus.

Setelah menonton ini, sumpah setiap lihat wajahnya Rosamund Pike, saya agak mual.

 

Fun facts

  • Gone Girl diadaptasi dari novel berjudul sama, karya Gillian Flynt, penulis Amerika. Flynt karya-karyanya agak mengerikan, namun juga memesona, halah. Bukan jenis yang menakutkan karena horror, namun lebih ke mengupas kedalaman sifat dasar manusia yang memang buas dan (cenderung) gila. Novel lainnya yang sudah difilmkan adalah “Dark Places” (2015).
  • Ben Affleck dua kali bersinggungan dengan film berjudul “Gone”. Di sini ia bermain sebagai aktor, di film “Gone Baby Gone”, Ben berperan sebagai penulis sekaligus sutradara.
  • Rosamund Pike, lewat perannya sebagai Amy, masuk nominasi aktris terbaik di 7 penghargaan, termasuk BAFTA award dan Academy Award.
  • Kutipan yang saya tuliskan di awal tulisan adalah kalimat pembuka di novel, juga film, yang dinarasikan oleh Nick Dunne. Seperti kalimat biasa saja, namun jika kalian sudah menonton film ini, mungkin seperti saya, jadi merinding membacanya.

 

word count : 1071

 

Posted in Romance

About Time

images

(sumber gambar klik)

 

Judul : About Time

Tahun : 2013

Sutradara : Richard Curtis

Pemain : Domhnall Gleeson, Rachel McAdams, Bill Nighy

Genre : Romance

 

SPOILER – ALERT

Menonton (kembali) film ini, saya baru nyadar bahwa Rachel McAdams tercatat bermain dua kali (setidaknya) di film bertema time-traveling. Pertama di “The Time Traveller’s Wife” (2009), yang kedua di sini. Dua-duanya pun berperan sebagai istri penjelajah waktu.

Domhnall Gleeson berperan sebagai Tim, anak muda dari Cornwall Inggris, yang hidup bahagia bersama kedua orangtuanya dan adiknya yang lucu, impulsif dan slenge’an , Kit-kat. Mereka tinggal di sebuah rumah besar yang menghadap ke laut. Very very Instagrammable. Ga perlu jauh-jauh ke pulau Tidung.

Tim adalah anak muda biasa yang canggung, tidak merasa tampan, dan belum pernah sukses dalam hal percintaan. Plus, Cornwall itu kampung, bukan kota besar.

 

About-Time.jpg

(sumber gambar klik )

 

Di usia 21 tahun, tiba-tiba Tim diberitahu rahasia besar oleh ayahnya. Bukan soal ternyata mereka adalah keturunan ketiga keluarga Cendana, atau ayahnya punya proyek mangkrak di Meikarta. Juga bukan kenyataan bahwa Tim diadopsi dari satu negara kecil di semenanjung Balkan.

Bukan.

“Every man in our family can travel back in time,” kata ayahnya. Semudah mengucapkan fakta bahwa goyang tiktok itu nirfaedah dan hanya membuang waktu.

Gila, bisa time-traveling??

Bisa ngubah alur perang Diponegoro, dong? Bisa colak colek Marylin Monroe dong.

Oh tidak, kata ayahnya. Tidak sedramatis itu.

Tim bisa mengubah satu hari dalam hidupnya, dengan cara pergi ke ruangan gelap dan mengepalkan kedua tangannya. Berhari-hatilah, kata ayahnya. Sebab ini hidupmu.

Be Wise.

Jadi demikianlah, inti kisah film ini adalah tentang bagaimana Tim kemudian menggunakan “kelebihannya” ini untuk memerjuangkan cintanya. Ia jatuh cinta pada Mary, gadis cantik berponi yang ia temui di sebuah restoran. Cinta Mary harus ia perjuangkan dengan gigih, sebab ia juga sibuk menolong orang lain untuk memerbaiki kehidupan mereka.

Terlalu baik memang Tim ini. Jangan terlalu baik Tim kalo jadi orang, orang baik rentan tersakiti.

#Eeaaa.

Jika ia mengubah satu hari dalam hidupnya, maka di masa sekarang, alur hidupnya otomatis berubah. Pontang-panting Tim berusaha menyeimbangkan dan memilah, mana yang betul-betul ingin ia raih.

Dan ya, jawaban Anda benar. Tim memilih cinta.

“Dan bilaaaa … aku berdiri, tegak sampai hari ini. Bukan karena kuat dan hebatkuuuu … semua karena cintaaaaa ….”

(soundtrack)

abouttime20138221015705.jpg

(sumber gambar klik )

 

Richard Curtis, sutradara film ini, adalah orang yang sama yang menyutradarai “Love Actually” (2003), film drama omnibus yang romantis dan hangat itu. Agaknya, formula yang sama dipakai Curtis dalam film ini.

Sepanjang film, Anda akan menikmati plot kisahnya, sama-sama jatuh cinta dengan karakter Tim yang ngegemesin dan Mary yang Oh-My-God-Udah-Cantik-Baik-Banget-Pulak. Hubungan Tim dan keluarganya yang bikin iri (terutama Tim dan ayahnya), rumahnya yang mengagumkan dan scoring musiknya yang membuat nyaman. Soal penjelajahan waktu malah jadi semacam sesuatu yang biasa saja, sebab bukan itu inti ceritanya. Ini soal cinta.

“Semuaaaa karenaaaa …”

SKIP.

Tentu, film yang baik adalah yang memiliki konflik. Bisa ditebak, konflik Tim adalah ketika semua yang ia inginkan dan rencanakan tidak selalu berjalan mulus. Kit-kat, adik perempuannya adalah tipe perempuan yang selalu bertahan dalam hubungan yang jelas-jelas salah. Pacar Kit-kat adalah jenis lelaki yang senangnya menyakiti, tapi anehnya hubungan mereka bertahan. “Awet rajet”; orang Sunda bilang.

Saat Kit-kat kecelakaan mobil sehabis berantem dengan Jimmy, pacarnya; Tim berusaha kembali ke masa lalu untuk mencegah kecelakaan tersebut. Berhasil alhamdulillahnya, namun ketika pulang Tim menemukan bahwa anaknya ternyata bukan anaknya (sounds familiar, eh?)

*ini bukan kisah FTV, kan?

Maksudnya ternyata, jika Tim mengubah sesuatu di masa lalu, setelah anaknya sudah lahir, ternyata jalan hidup anaknya juga berubah. Bahkan, ya itu tadi. Anaknya bisa berganti kelamin. Asalnya punya anak cewek, pas mengubah masa lalu, eh ternyata kok jadi anak cowok. Bingung ya kan.

Tim tahu ini dari ayahnya, tentu; yang rutin ia kunjungi setiap butuh jawaban.

Dan lagi-lagi, memang Tim harus memilih. Hidup ini terdiri dari banyak pilihan, Tim. It sucks, I know. *sodorin tissu ke Tim.

Bagian paling bikin sakit hati adalah waktu … ah sedih aja pokoknya. Kalian harus nonton sendiri, untuk tahu bagaimana perasaan Tim dan dilema yang harus ia hadapi.

Jadi, bersyukurlah kita, tidak punya kemampuan time-traveling dan ga mampu tahu masa depan. It’s better that way.

Meski hidup pas-pasan dan banyak masalah, hiks (kok jadi curhat), meski jajanan paling keren yang pernah dibeli adalah kopi dan tiramisu di Indomaret Point Cafe (eh ini sih temen saya), meski pas wiken mampunya cuman ke pasar kaget deket rumah (dalam kondisi belum mandi dan berharap bisa sarapan kupat tahu Padalarang), tapi sungguh hidup layak untuk disyukuri.

Film ini bagus kok. Terutama kalau kalian yang suka drama kayak saya. Drama di film yes, bukan drama dalam hidup, atau drama dalam status Facebook (eh kadang sih).

Filmnya ringan, tapi berkesan.

Kayak kamu gitu lah.

ahiw!

 

***Fakta menarik:

  • Rachel McAdams dua kali main di film bertema time-traveling … (eh udah yak)
  • Domhnall Gleeson ini berperan sebagai Billy Weasley, kakaknya Ron di franchise Harry Potter
  • Bill Nighy yang berperan sebagai “dad” adalah Rufus Scrimgeour, menteri sihir; juga di franchise Harry Potter
  • Ada Paman Vernon juga, muncul sebagai salah satu figuran (hiks, jadi sedih)

 

word count : 821

Posted in Family, Uncategorized

The Family Stone

pbox

sumber di klik

 

 

Judul : The Family Stone

Tahun : 2005

Sutradara : Thomas Bezucha

Cast : Sarah Jessica Parker, Claire Danes, Diane Keaton, Luke Wilson.

Genre : Drama/family

 

This is definitely one of the best family drama movie ever made!

Tak terhitung, mungkin sudah lebih dari lima kali saya menonton film ini, dan tak pernah bosan.

Dirilis sebagai film keluarga yang keluar di akhir tahun (dan mengusung tema christmas holiday), buat saya bumbu film ini lengkap; drama, komedi, percintaan.

Film dibuka dengan adegan rumah keluarga Stone yang besar. Satu persatu, kelima anak-anak Stone pulang ke rumah orangtua mereka untuk merayakan Natal bersama.

Everett (Dermot Mulroney), anak lelaki sulung adalah seorang pekerja sukses di kota besar. Natal kali ini ia pulang sambil memperkenalkan pacarnya yang cantik (dan juga sukses), Meredith (Sarah Jessica Parker).

Susannah (Elizabeth Reaser) anak kedua, adalah tipikal ibu rumah tangga yang lembut. Dalam keadaan hamil besar, ia menginap di rumah orangtuanya, bersama Elizabeth, anak sulungnya.

Ben (Luke Wilson) adalah anak lelaki tipe “clown in the family”, santai, slenge’an tapi lucu. Sementara anak lelaki setelahnya, Thad (Tyrone Giordano) adalah seorang tuna rungu yang berhati lembut. Thad seorang gay, yang sudah memiliki ‘suami’; Patrick (Brian White).

Terakhir ada Amy (Rachel McAdams), anak bungsu yang jahil dan cenderung pembangkang. Amy berprofesi sebagai guru sekolah.

mgid_ao_image_mtv_458585.jpg

sumber di klik

 

Maka demikianlah kelima anak keluarga Stone berkumpul di rumah orangtua mereka, Kelly (Craig T. Nelson) dan Sybil (Diane Keaton). Keluarga Stone ini hangat sekaligus menggelikan. Mereka senang membahas banyak hal bersama, tanpa terkecuali kehadiran Meredith yang kaku dan dianggap kurang ramah.

Mati-matian Meredith berusaha meraih simpati keluarga barunya ini, sebab ia dan Everett sudah berpacaran cukup lama. Insiden dipermalukannya Meredith di keluarga ini (oleh Amy) membuatnya merasa butuh menelepon adiknya, Julie (Claire Danes) untuk datang.

Kehadiran Julie yang 180 derajat berbeda dari kakaknya, membuat kisah film ini semakin menarik. Meredith yang merasa dikucilkan, terheran-heran melihat bagaimana keluarga Stone bisa menerima Julie dengan demikian hangatnya. Pelajaran penting dalam hidup; kemampuan bersosialisasi bukan sesuatu yang bisa dipelajari, melainkan dilakoni dan erat kaitannya dengan karakter seseorang. Julie yang sering tersenyum, bersikap hangat pada semua orang, membuat keluarga Stone (bahkan Amy yang jutek) menjadi menyukainya.

the-family-stone-stills-hq-elizabeth-reaser-18653104-2560-1676.jpg

gambar di klik

 

Konflik pecah saat makan malam Natal. Meredith, merasa ingin meniru Julie, kemudian menyentuh hal sensitif di keluarga ini; yaitu soal keberadaan Thad yang adalah seorang homoseksual. Di awal kedatangan, ia pun sudah menyinggung hati Thad karena kondisinya yang tuna rungu. Makan malam menjadi bencana. Meredith kabur dari sana dan akhirnya pergi ke bar bersama Ben, adik Everett yang luar biasa selow.

Everett marah pada keluarganya yang ia anggap tak mampu bersikap ramah pada Meredith. Ia mencari Meredith bersama Julie. Tak dinyana, keduanya malah menemukan banyak kecocokan saat berjalan bersama di malam Natal yang dingin.

Demikianlah, film ini menyajikan romance, komedi, kehangatan keluarga secara bergantian. Di beberapa adegan penonton akan dibuat terharu sebab Meredith ternyata tidak sekaku itu. Ia malah memberikan hadiah Natal yang sangat berkesan bagi semua anak-anak Stone, yang dalam hati mereka selalu waswas dan cemas. Sybil sang ibu menderita kanker payudara stadium lanjut. Sybil hanya tinggal menunggu waktu.

Barusan menonton film ini lagi, hati saya kembali menghangat.

This is a good family movie.

Posted in drama, Film Korea

Silenced

Judul : Silenced (judul asli : Do-ga-ni)

Tahun : 2011

Sutradara : Dyong Hyuk Hwang

Pemain : Yoo Gong, Hyen Soo-Kim

Genre : Drama

293

sumber gambar : klik

 

“Tak ada keadilan yang betul-betul adil di dunia ini”, itulah kesimpulan yang saya dapat setelah menonton “Silenced” (2011), sebuah film yang memiliki pesan teramat kuat dari negeri Korea. Film ini sebetulnya sudah ada di watch-list saya bertahun lalu, namun baru ada keberanian menontonnya secara utuh tadi malam.

Silenced diangkat dari novel laris berjudul “Do-ga-ni” karya penulis best seller Korea, Cong Ji Young di tahun 2009.

Kisahnya sendiri terinspirasi dari kejadian nyata yang terjadi di sekolah tuna rungu di Gwanju Inhwa School, Korea Selatan. (Ulasan mengenai ini akan disampaikan belakangan)

Aktor utama di film ini adalah Yoo Gong, satu-satunya aktor Korea yang saya kenal, berkat film laris “Train To Busan”. Yoo Gong berperan sebagai In-ho, seorang guru baru yang diterima mengajar di sekolah khusus tuna rungu di Mujin (dalam kisah aslinya, terjadi di Gwanja, di film nama kotanya Mujin).

In-ho datang dengan membawa beban masa lalu. Ia seorang single parent yang membutuhkan uang untuk menghidupi anak perempuan satu-satunya, Sol. Sol diasuh oleh Ibu In-ho, setelah istrinya meninggal dunia.

Adegan film dibuka dengan pemandangan menuju kota kecil Mujin yang suram dan berkabut, suka sekali melihatnya. Sentuhan yang sangat menjanjikan, dan memang sesuai, dari awal sampai akhir kisahnya membelit saya hingga ke hati.

In-ho bekerja sebagai guru seni di sekolah khusus tuna rungu tersebut. Sejak awal kedatangan, sekolah terpencil ini sudah menyiratkan keanehan. Kepala sekolah meminta In-ho untuk membayar uang pengembangan sekolah sebesar 50.000 won (sekitar 630 ribu rupiah). Saya baru tahu kalau di Korea, yang bayar uang pengembangan bukan hanya calon murid, tapi juga calon guru.

Tak lama sejak In-ho datang ke sekolah tersebut, ia menemui beberapa keanehan. Diantaranya, seorang guru yang dengan cueknya menyiksa murid di ruang guru (sementara guru-guru lainnya woles duduk di meja mereka masing-masing), beberapa murid yang bermuka lebam, hingga jeritan di kamar mandi yang ia dengar, saat kerja lembur.

Beberapa rangkaian kejadian aneh tersebut, membuat In-ho sadar bahwa ada sesuatu yang mengerikan terjadi di sekolah tersebut. Apalagi kemudian, ada seorang murid perempuan yang mendatangi In-ho dan bercerita bahwa ia sering mengalami pelecehan seksual, bahkan perkosaan, yang dilakukan oleh kepala sekolah.

Bagaikan efek bola salju, satu persatu rahasia kelam terkuak. Pelecehan tak hanya dilakukan oleh kepsek seorang, namun juga kepala asrama (yang adalah kembaran kepsek) dan seorang guru. In-ho bekerjasama dengan Yoo-Jin, seorang gadis aktivis HAM yang ia temui secara tak sengaja, saat membawa mobilnya ke bengkel. Bahu-membahu, mereka berdua membawa kasus ini ke media, sehingga kemudian para pelaku ditahan dan diadili di persidangan.

silenced-010

sumber gambar : klik

 

Banyak sekali adegan yang membuat napas tertahan di sini. Apalagi para korban adalah anak-anak tuna rungu, yang tak bisa berkisah melalui kata-kata. Total ada 3 korban (2 perempuan dan 1 lelaki, salah satunya juga menderita keterbelakangan mental) yang mau bersaksi. Adegan kesaksian yang disampaikan melalui bahasa isyarat efeknya lebih merinding, ketimbang melalui tangisan dan teriakan. Film ini sukses menguras mental saya.

Persidangan pun tak semulus yang dikira In-ho dan Yoo-Jin. Kepsek yang merupakan salah satu pelaku memiliki jaringan pertemanan yang luas, meliputi orang-orang terkenal dan berpengaruh di Mujin. Kepala polisi, pengacara pembela dan jaksa penuntut semua ada di bawah pengaruhnya. Belum lagi jemaat gereja yang membelanya mati-matian (Kepsek dikenal sebagai seorang Kristen taat).

Kehidupan In-ho yang dari awal tidak mulus-mulus amat, menjadi tambah kacau, sebab ia terancam mengorbankan keluarganya sendiri. Ibunya menginginkan In-ho fokus dengan pekerjaan sebab mereka membutuhkan uang, apalagi anak perempuan In-ho menderita penyakit asma dan sering sakit-sakitan.

Keadaan diperparah dengan adanya upaya “settlement” dari pihak terpidana. Mereka menawarkan sejumlah uang kepada orangtua para korban, semacam uang tutup mulut, agar kasus mereka ditutup. Plus, pasal pelecehan di Korea ternyata menyebutkan bahwa korban harus berusia 13 tahun ke atas, sehingga di bawah itu tidak masuk pasal pelecehan (hukum yang aneh).

Tak ada keadilan sesungguhnya di dunia ini, dan keadilan tak selalu menang. 15 menit menjelang akhir film betul-betul membuat patah hati.

Min-Su, salah seorang korban (anak lelaki) yang nasibnya paling tragis. Berdua dengan adik kecilnya, mereka dilecehkan seorang guru secara terus-menerus. Adik lelaki Min-su kemudian bunuh diri dengan cara menabrakkan diri ke sebuah kereta api yang sedang melaju cepat. Min-su awalnya ragu untuk memberikan keterangan. Ia bertanya pada In-ho,

“If I tell you the story, will they be punished?” (they = para pelaku)

“I promise.” Jawab In-ho.

Di persidangan, Min-su bersemangat sekali untuk duduk di kursi saksi, namun sayangnya, neneknya yang miskin telah menyetujui uang ganti rugi yang ditawarkan pelaku. Sehingga, kesaksiannya takkan berguna lagi.

“Why can’t I testify?”

“You can’t. Your grandmother has forgiven them.” Jawab In-ho lemah.

“Why?? They didn’t ask for me and my brother’s forgiveness. We can’t forgive them.”

In-ho menatapnya sedih.

“It hurts! It hurts!”

Saya hanya bisa membaca subtitle, sebab semua disampaikan dalam bahasa isyarat (plus saya tidak paham bahasa Korea). Namun hati saya ikut teriris. Apalagi kemudian Min-su memutuskan melakukan sesuatu yang membuat saya susah mati menahan diri untuk tidak menjerit keras. Silakan ditonton sendiri untuk tahu. Hiks hiks.

Usai menonton film ini, mental saya hancur.

Film ini sungguh keterlaluan mengaduk emosi penonton.

 

tumblr_movu85nM511rqv7mko1_500.gif

sumber gambar : klik

 

Dan tahukah kalian, bahwa di tahun 2012, film ini ditonton oleh tak kurang dari 4 juta warga Korea Selatan, termasuk Presiden Korsel. Gelombang demonstrasi kemudian terjadi secara massif di pelbagai kota, yang menyebabkan pemerintah akhirnya membuka ulang kasusnya. Para pelaku hanya diberikan hukuman beberapa bulan saja di penjara. Dengan dibuka ulangnya kasus ini, para pelaku kembali diajukan ke persidangan.

Membaca kasus aslinya di Wikipedia dan beberapa media, membuat saya tambah merinding. Kasus aslinya bahkan lebih banyak dan berlangsung dalam waktu yang lama. Jumlah pelaku bukanlah tiga orang, melainkan hampir seluruh guru di sekolah tersebut. Kejahatan seksual itu terjadi di rentang waktu 1964-2000. Artinya, ini kejahatan bersama-sama, yang diwariskan dari generasi ke generasi. Pada kasus asli, jumlah korban yang mau bersaksi adalah 9 orang, sementara sisanya memilih diam.

Akibat viralnya film ini juga, akhirnya pemerintah Korea menetapkan “Dogani Law” yaitu hukum yang menghapuskan diskriminasi terhadap pelecehan seksual kepada anak-anak di bawah usia 13 tahun (batasan umur dihapus) dan anak-anak dengan disabilitas. Efek positif dari booming-nya sebuah film.

 

Truth is still truth. It is eventually revealed, one way or another.

*Tarik napas*

 

Sumber bacaan:

http://www.koreatimes.co.kr/www/news/nation/2011/10/113_97529.html

https://en.wikipedia.org/wiki/Gwangju_Inhwa_School

https://uk.reuters.com/article/uk-dogani/south-korea-writer-hopes-hit-film-brings-legal-changes-idUKTRE79I48A20111019

https://thediplomat.com/2011/11/south-koreas-silenced-speak/

 

 

Posted in Biopic, Film Indonesia

Chrisye

chrisye

(gambar diambil dari sini)

 

Judul : Chrisye

Tahun : 2017

Sutradara : Rizal Mantovani

Pemain : Vino G. Bastian, Velove Vexia, Dwi Sasono, Ray Sahetapy

Genre : Biopik

Durasi : 110 menit

 

Christian Rahadi dilahirkan di Jakarta tahun 1949 dari kedua orangtua keturunan Tionghoa. Anak kedua dari tiga bersaudara yang kesemuanya laki-laki ini, menyukai musik sejak kecil. Saat bersekolah di SD, Chrisye (panggilan akrabnya) berteman dekat dengan anak-anak keluarga Nasution, diantaranya Keenan Nasution dan Gauri.

Anak-anak Nasution kemudian membentuk band bernama Sabda Nada. Saat pemain Bass mereka sakit, Gauri meminta Chrisye untuk menggantikannya. Beberapa tahun setelahnya band ini berganti nama menjadi “Gypsy Band” supaya terdengar lebih macho dan kebarat-baratan.

 

Chrisye bermain bass di sebuah acara ulang tahun menjadi pembuka film besutan Rizal Mantovani di tahun 2017 ini. Belum-belum saya sudah terharu. Mungkin karena saya sangat menyukai lagu-lagu Chrisye. “Merepih Alam” dan “Ketika Tangan dan Kaki Berkata” adalah dua lagu yang tak pernah bosan saya dengarkan dan selalu menggetarkan hati setiap mendengarnya.

Jadi menonton film ini, saya agak lelah secara emosional, sebab tiba-tiba merindu sosok penyanyi legendaris yang sangat bersahaja ini.

Lanjuut.

Film ini, seperti terwakili oleh tulisan Damayanti Noor di awal film, adalah pengejawantahan sosok Chrisye dari sudut pandang seorang istri.

“Mungkin Chrisye dilihat berbeda oleh banyak orang, namun ini kisah dari sudut pandang saya.” Kata Yanti.

Jadilah kita akan melihat seorang Chrisye yang sedang menghitung pengeluaran bulanan memakai kalkulator, yang sedang menggosok lantai kamar mandi atau bermain dengan anak. Untuk alasan yang sama, saya setuju dengan sudut pandang yang diambil oleh Rizal Mantovani sebagai sutradara. Kita lebih banyak melihat seorang Chrisye sebagai seorang manusia biasa, bukan seorang superstar.

Chrisye sempat manggung selama setahun di sebuah café di Amerika, bersama Gypsy band. Suatu hari ia pulang ke Indonesia dengan hati hancur, Karena Vicky, adiknya meninggal. Vicky adalah orang pertama yang percaya pada bakat dan kemampuannya sebagai seorang musisi. Ayahnya sendiri begitu keras dan selalu menegaskan pada Chrisye bahwa, “Mau hidup apa yey jadi musisi? Ini Indonesia! Di sini musisi tidak dihargai!”

Sampai era 90-an awal, ucapan Ayah Chrisye ada benarnya. Berbeda dengan zaman sekarang, ketika satu single saja bisa membuat seorang penyanyi membeli rumah, mobil serta jalan-jalan ke luar negeri, dulu tidak begitu. Maka kita akan menyaksikan Chrisye yang terus menerus resah dan mengkhawatirkan kondisi finansial keluarga, bahkan setelah ia sukses menjual beberapa album.

Alur film mengalir cukup baik, meskipun ekspektasi saya akan suasana 60-80 an akan lebih grande, namun rupanya tidak terkabul, hehe. Fokus film ini memang hanya pada sosok Chrisye, sehingga tokoh lain maupun setting cerita menjadi semacam pelengkap. Meskipun video klip “Aku Suka Dia” itu ngena banget. Saya tertawa melihat gaya nari Vino yang memang tumplek plek Chrisye yang kaku kalo disuruh goyang.

chrisye3

(gambar diambil dari sini)

Pengolahan emosi, sebetulnya agak kurang maksimal, sebab kurva emosional saya stagnan kecuali pada adegan perekaman lagu dahsyat “Ketika Tangan dan Kaki Berkata” barulah kegelisahan Chrisye yang tercengang atas lirik karya Taufiq Ismail menjadi begitu tervisualisasikan dengan baik. Jadi ikut merasakan kegundahan Chrisye selama hidupnya adalah untuk membuat Ayahnya percaya, dan untuk menemukan jalan ketuhanan yang telah ia pilih.

Secara keseluruhan, film ini layak diapresiasi sebagai salah satu film biopik Indonesia yang mampu menampilkan sisi humanis dari tokoh yang digarapnya.

Apresiasi terutama saya sematkan untuk Vino Bastian, yang sudah menghidupkan kembali sang legenda, Chrisye.

220px-Chrisye_in_1977

(gambar diambil dari sini)

 

Posted in Film Indonesia, komedi

Mau Jadi Apa, Nostalgia Fikom Unpad

1512286181-Film-Mau-Jadi-Apa-700x394

gambar diambil dari sini

 

Judul : Mau Jadi Apa

Tahun : 2017

Sutradara : Monty Tiwa, Soleh Solikhun

Pemain : Soleh Solikhun, Boris Bokir, Adjis Doa Ibu

Genre : Komedi

 

Tahun 1997 menjadi spesial untuk saya, sebab pada tahun itulah pertamakali saya melepaskan belenggu mengenakan seragam selama bertahun-tahun dan patuh mengikuti upacara bendera setiap hari Senin.

Yes, masa-masa pertamakali menjadi mahasiswa memang seru.

Oleh karenanya, menonton film ini juga saya berharap bisa mendapat keseruan yang sama. Soleh menjadi mahasiswa di tahun yang sama. Iya, kami memang seangkatan. Beda kampus tapi.

“Mau Jadi Apa” adalah semacam diari masa lalunya seorang Soleh Solikhun. Diterima menjadi mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) Unpad yang bergengsi, tidak serta merta menjadikan Soleh mudah menjalani hari-harinya.

selepas Ospek dan memulai hidup sebagai mahasiswa baru, Soleh ingin bergabung dengan organisasi jurnalistik di Fikom. Organisasi ini secara rutin menerbitkan majalah kampus yang berjudul “Fakta Jatinangor” atau “FAKJAT”.

Fakjat dipenuhi artikel-artikel serius dan berbau politik. Soleh ingin memasukkan artikel soal musik, sebab ia mengidolai Pure Saturday, salah satu band Indie asal Bandung. Ide ini ditolak oleh Ketua Fakjat (diperankan oleh Ronald) sebab dinilai ecek-ecek. Bukan itu saja, Ronald pun berhasil menggaet Ros, cewek seangkatan yang ditaksir Soleh sejak masih ospek.

Soleh, dibantu oleh kelima temannya yang kompak, kemudian membuat media tandingan yang mereka sebut “Karung Goni”. Di dalam Karung Goni, mereka memasukkan banyak rubrik berita, tips dan trik. Setelah dilakukan investigasi kecil-kecilan, ternyata anak-anak Fikom sangat suka dengan gosip. Akhirnya Karung Goni pun memuat banyak gosip teranyar soal para mahasiswa.

Masalah kemudian muncul sebab salah satu gosip yang mereka muat kemudian menyangkut kehormatan salah satu dosen. Soleh dan kawan-kawan pun harus  memertanggungjawabkan perbuatannya di hadapan sidang kode etik kampus.

Secara penggarapan, film ini termasuk yang biasa, dalam arti tidak ada sesuatu yang wow. Cerita cukup mengalir, diselingi joke-joke yang mungkin akan lebih bisa dipahami oleh warga Bandung, anak Unpad atau orang Sunda.

Film ini, cocok untuk dijadikan nostalgia bagi mereka yang ingin mengenang saat-saat menjadi mahasiswa di era 90-an. Gaya berpakaian, gaya bercanda sampai gaya mendekati gebetan. Seperti Ernest dalam “Ngenest”, Soleh mencoba mengangkat kisah hidupnnya sendiri, sekaligus menertawakan nasibnya, sebagai seseorang yang sangat biasa, bertampang pas-pasan dan sering disangka tukang ojeg.

Overall, saya cukup menikmati film ini, meskipun tone nya datar dan ketika mencapai ending, ya sudah. Berakhir begitu saja. Di lain hari, mungkin Soleh harus belajar banyak dari sesama komika, Ernest;  bagaimana mengemas sebuah cerita biasa menjadi sangat berkesan.