Posted in Biopic, Film Indonesia

Chrisye

chrisye

(gambar diambil dari sini)

 

Judul : Chrisye

Tahun : 2017

Sutradara : Rizal Mantovani

Pemain : Vino G. Bastian, Velove Vexia, Dwi Sasono, Ray Sahetapy

Genre : Biopik

Durasi : 110 menit

 

Christian Rahadi dilahirkan di Jakarta tahun 1949 dari kedua orangtua keturunan Tionghoa. Anak kedua dari tiga bersaudara yang kesemuanya laki-laki ini, menyukai musik sejak kecil. Saat bersekolah di SD, Chrisye (panggilan akrabnya) berteman dekat dengan anak-anak keluarga Nasution, diantaranya Keenan Nasution dan Gauri.

Anak-anak Nasution kemudian membentuk band bernama Sabda Nada. Saat pemain Bass mereka sakit, Gauri meminta Chrisye untuk menggantikannya. Beberapa tahun setelahnya band ini berganti nama menjadi “Gypsy Band” supaya terdengar lebih macho dan kebarat-baratan.

 

Chrisye bermain bass di sebuah acara ulang tahun menjadi pembuka film besutan Rizal Mantovani di tahun 2017 ini. Belum-belum saya sudah terharu. Mungkin karena saya sangat menyukai lagu-lagu Chrisye. “Merepih Alam” dan “Ketika Tangan dan Kaki Berkata” adalah dua lagu yang tak pernah bosan saya dengarkan dan selalu menggetarkan hati setiap mendengarnya.

Jadi menonton film ini, saya agak lelah secara emosional, sebab tiba-tiba merindu sosok penyanyi legendaris yang sangat bersahaja ini.

Lanjuut.

Film ini, seperti terwakili oleh tulisan Damayanti Noor di awal film, adalah pengejawantahan sosok Chrisye dari sudut pandang seorang istri.

“Mungkin Chrisye dilihat berbeda oleh banyak orang, namun ini kisah dari sudut pandang saya.” Kata Yanti.

Jadilah kita akan melihat seorang Chrisye yang sedang menghitung pengeluaran bulanan memakai kalkulator, yang sedang menggosok lantai kamar mandi atau bermain dengan anak. Untuk alasan yang sama, saya setuju dengan sudut pandang yang diambil oleh Rizal Mantovani sebagai sutradara. Kita lebih banyak melihat seorang Chrisye sebagai seorang manusia biasa, bukan seorang superstar.

Chrisye sempat manggung selama setahun di sebuah café di Amerika, bersama Gypsy band. Suatu hari ia pulang ke Indonesia dengan hati hancur, Karena Vicky, adiknya meninggal. Vicky adalah orang pertama yang percaya pada bakat dan kemampuannya sebagai seorang musisi. Ayahnya sendiri begitu keras dan selalu menegaskan pada Chrisye bahwa, “Mau hidup apa yey jadi musisi? Ini Indonesia! Di sini musisi tidak dihargai!”

Sampai era 90-an awal, ucapan Ayah Chrisye ada benarnya. Berbeda dengan zaman sekarang, ketika satu single saja bisa membuat seorang penyanyi membeli rumah, mobil serta jalan-jalan ke luar negeri, dulu tidak begitu. Maka kita akan menyaksikan Chrisye yang terus menerus resah dan mengkhawatirkan kondisi finansial keluarga, bahkan setelah ia sukses menjual beberapa album.

Alur film mengalir cukup baik, meskipun ekspektasi saya akan suasana 60-80 an akan lebih grande, namun rupanya tidak terkabul, hehe. Fokus film ini memang hanya pada sosok Chrisye, sehingga tokoh lain maupun setting cerita menjadi semacam pelengkap. Meskipun video klip “Aku Suka Dia” itu ngena banget. Saya tertawa melihat gaya nari Vino yang memang tumplek plek Chrisye yang kaku kalo disuruh goyang.

chrisye3

(gambar diambil dari sini)

Pengolahan emosi, sebetulnya agak kurang maksimal, sebab kurva emosional saya stagnan kecuali pada adegan perekaman lagu dahsyat “Ketika Tangan dan Kaki Berkata” barulah kegelisahan Chrisye yang tercengang atas lirik karya Taufiq Ismail menjadi begitu tervisualisasikan dengan baik. Jadi ikut merasakan kegundahan Chrisye selama hidupnya adalah untuk membuat Ayahnya percaya, dan untuk menemukan jalan ketuhanan yang telah ia pilih.

Secara keseluruhan, film ini layak diapresiasi sebagai salah satu film biopik Indonesia yang mampu menampilkan sisi humanis dari tokoh yang digarapnya.

Apresiasi terutama saya sematkan untuk Vino Bastian, yang sudah menghidupkan kembali sang legenda, Chrisye.

220px-Chrisye_in_1977

(gambar diambil dari sini)

 

Advertisements
Posted in Film Indonesia, komedi

Mau Jadi Apa, Nostalgia Fikom Unpad

1512286181-Film-Mau-Jadi-Apa-700x394

gambar diambil dari sini

 

Judul : Mau Jadi Apa

Tahun : 2017

Sutradara : Monty Tiwa, Soleh Solikhun

Pemain : Soleh Solikhun, Boris Bokir, Adjis Doa Ibu

Genre : Komedi

 

Tahun 1997 menjadi spesial untuk saya, sebab pada tahun itulah pertamakali saya melepaskan belenggu mengenakan seragam selama bertahun-tahun dan patuh mengikuti upacara bendera setiap hari Senin.

Yes, masa-masa pertamakali menjadi mahasiswa memang seru.

Oleh karenanya, menonton film ini juga saya berharap bisa mendapat keseruan yang sama. Soleh menjadi mahasiswa di tahun yang sama. Iya, kami memang seangkatan. Beda kampus tapi.

“Mau Jadi Apa” adalah semacam diari masa lalunya seorang Soleh Solikhun. Diterima menjadi mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) Unpad yang bergengsi, tidak serta merta menjadikan Soleh mudah menjalani hari-harinya.

selepas Ospek dan memulai hidup sebagai mahasiswa baru, Soleh ingin bergabung dengan organisasi jurnalistik di Fikom. Organisasi ini secara rutin menerbitkan majalah kampus yang berjudul “Fakta Jatinangor” atau “FAKJAT”.

Fakjat dipenuhi artikel-artikel serius dan berbau politik. Soleh ingin memasukkan artikel soal musik, sebab ia mengidolai Pure Saturday, salah satu band Indie asal Bandung. Ide ini ditolak oleh Ketua Fakjat (diperankan oleh Ronald) sebab dinilai ecek-ecek. Bukan itu saja, Ronald pun berhasil menggaet Ros, cewek seangkatan yang ditaksir Soleh sejak masih ospek.

Soleh, dibantu oleh kelima temannya yang kompak, kemudian membuat media tandingan yang mereka sebut “Karung Goni”. Di dalam Karung Goni, mereka memasukkan banyak rubrik berita, tips dan trik. Setelah dilakukan investigasi kecil-kecilan, ternyata anak-anak Fikom sangat suka dengan gosip. Akhirnya Karung Goni pun memuat banyak gosip teranyar soal para mahasiswa.

Masalah kemudian muncul sebab salah satu gosip yang mereka muat kemudian menyangkut kehormatan salah satu dosen. Soleh dan kawan-kawan pun harus  memertanggungjawabkan perbuatannya di hadapan sidang kode etik kampus.

Secara penggarapan, film ini termasuk yang biasa, dalam arti tidak ada sesuatu yang wow. Cerita cukup mengalir, diselingi joke-joke yang mungkin akan lebih bisa dipahami oleh warga Bandung, anak Unpad atau orang Sunda.

Film ini, cocok untuk dijadikan nostalgia bagi mereka yang ingin mengenang saat-saat menjadi mahasiswa di era 90-an. Gaya berpakaian, gaya bercanda sampai gaya mendekati gebetan. Seperti Ernest dalam “Ngenest”, Soleh mencoba mengangkat kisah hidupnnya sendiri, sekaligus menertawakan nasibnya, sebagai seseorang yang sangat biasa, bertampang pas-pasan dan sering disangka tukang ojeg.

Overall, saya cukup menikmati film ini, meskipun tone nya datar dan ketika mencapai ending, ya sudah. Berakhir begitu saja. Di lain hari, mungkin Soleh harus belajar banyak dari sesama komika, Ernest;  bagaimana mengemas sebuah cerita biasa menjadi sangat berkesan.

Posted in drama, Family, Film Hollywood, Horor, Thriller

A Quiet Place : Ngeri dalam Kesunyian

A_Quiet_Place_spot_050218

gambar diambil dari sini

 

Judul : A Quiet Place

Tahun : 2018

Sutradara : John Krasinski

Pemain : John Krasinski, Emily Blunt, Millicent Simmons

Genre : Thriller/Drama

Durasi : 90 menit

 

Sebuah keluarga yang terdiri dari Ayah, Ibu dan tiga anak-anak mereka, berjalan beriringan di sebuah jalan setapak yang sunyi. Setiap langkah diperhitungkan supaya tidak menimbulkan gaduh. Mulut terkunci tanpa mengeluarkan suara. Setiap hari, mereka berperilaku seperti layaknya keluarga normal. Memasak, makan bersama, mencuci baju dan lain sebagainya. Bedanya adalah ; komunikasi yang terjalin hanya lewat sentuhan di bahu dan melalui bahasa isyarat.

Itulah sekilas premis film besutan John Krasinski, yang menuai banyak pujian dari penonton ini. Di masa depan, bumi dikuasai oleh segerombolan “makhluk” yang akan menyerang jika ada suara tercipta, sekecil apapun. Maka siapapun yang selamat, mesti bertahan diri dengan cara seperti itu. Hidup dalam kesunyian.

Bayangkan, jika kamu, untuk sekadar bermain monopoli pun, harus menggunakan bahasa isyarat. Suara tawa dilepaskan tanpa bunyi, dan setiap berbicara harus saling memandang wajah satu sama lain. Betul-betul hidup yang sunyi, dalam kesunyian.

download

(gambar diambil dari sini)

 

Dari sekian banyak film thriller sejenis dengan tema post-apocalypse, “A Quiet Place” memang memboyong ide yang tidak biasa. Meski, jika kamu menonton film “The Descent”, kamu akan diperkenalkan dengan makhluk ‘aneh’ yang mendeteksi manusia dari gerakan, namun A Quiet Place menawarkan lebih dari sekadar berlari panik karena dikejar atau menahan napas sambil bersembunyi di balik batu. Ia menawarkan rasa yang membuat penonton serasa ikut tercekik menahan napas.

95 % film berdurasi (hanya) 90 menit ini, tidak memakai dialog. Semua tokoh dalam film ini berbahasa isyarat, sebab dalam kisahnya, mereka harus sesedikit mungkin mengeluarkan bunyi. Hasilnya? Penonton disajikan pergulatan batin para tokoh, tidak lewat bahasa lisan, melainkan melalui ekspresi wajah, sorot mata ketakutan, dan kengerian yang tercipta dari mulut tanpa suara.

John Krasinski dikenal publik sebelumnya sebagai aktor (saja). Tak banyak yang tahu bahwa sebelumnya, ia ternyata sudah pernah menyutradarai beberapa episode serial “The Office” dimana ia adalah salah satu pemainnya. Ia juga sudah pernah membuat beberapa naskah cerita. Bisa dibilang A Quiet Place adalah debut pertama Krasinski dalam dunia layar lebar.

Krasinski berhasil menjalin ketegangan demi ketegangan, menyajikan kengerian di waktu yang tepat dan membangun cerita secara sabar. Chemistry yang terbangun antara Krasinski dan Emily Blunt yang berperan sebagai istrinya, terasa begitu manis sekaligus menyakitkan. Entah apakah kenyataan bahwa mereka berdua adalah pasangan beneran di dunia nyata, menjadi salah satu faktor pendukungnya.

a-quiet-place-review

(gambar diambil dari sini)

 

Tentu, film ini tidak lepas dari cacat. Beberapa adegan cliché yang ditampilkan bukanlah sesuatu yang baru, namun ketegangan yang mampu terjaga dari awal sampai akhir patut diacungi jempol. Para penonton melaporkan bahwa, di semua tempat mereka menonton, suasana begitu hening dan mencekam sebab semua orang terhanyut dalam kisahnya.

Film ini sedikit mengingatkan pada film “Don’t Breathe” (2016), sebab sama-sama mampu membuat penonton terpaku di kursi serta menahan napas. Pun begitu, dari segi pemenuhan nilai moral dan kedekatan kontekstual dengan penonton (sebab kisahnya tentang keluarga), A Quiet Place lebih unggul.

Jadi, tunggu apa lagi? Selagi masih tayang di bioskop, mari menonton!

 

 

 

 

Posted in drama, Family, Film Hollywood

I am Sam

i-am-sam

gambar diambil dari sini

 

Judul : I am Sam

Tahun : 2001

Sutradara : Jessie Nelson

Pemain : Sean Penn, Michelle Pfeiffer, Dakota Fanning

Genre : Drama

 

Menonton film ini mesti siap-siap nangis sampai sesenggukan. Well, setidaknya itu yang terjadi pada saya, berapa kali pun saya menonton.  Sean Penn sukses membuat dada saya sesak dan memertanyakan kembali kenapa saya sering berkeluh kesah tentang hidup. #tsaaaah

Sam Dawson adalah seorang pria dewasa yang didiagnosa autism dan memiliki kecerdasan setara dengan anak umur 7 tahun. Di awal film, kita sudah dibuat ikut berlari bersama Sam ke sebuah ruang bersalin rumah sakit. Akibat hubungannya dengan seorang wanita tunawisma, Sam menunggui wanita tersebut yang akan melahirkan anak mereka.

Bayi perempuan mungil itu kemudian Sam namai “Lucy”, diambil dari lirik lagu The Beatles “Lucy Diamond in the sky”. Malangnya, sang wanita tunawisma tak mau mengurus Lucy dan meninggalkan mereka berdua.

Dimulailah babak baru kehidupan Sam, mengurus Lucy di sela-sela kesibukannya bekerja sebagai petugas bebersih di Starbuck Coffee. Tentu tak mudah mengurus bayi, apalagi untuk Sam yang kapasitas daya nalarnya tidak senormal orang pada umumnya. Untunglah ia banyak dibantu oleh Annie, seorang wanita paruh baya tetangganya sendiri yang menderita Agoraphobia. Annie takut keluar rumah karena trauma yang dialaminya di masa lalu.

Hal yang sangat menarik dari film ini adalah kedekatan antara Sam dan Lucy. Betapapun berbedanya Sam disbanding ayah teman-teman Lucy yang lain, anak gadis kecil yang cantik ini mencintai ayahnya tanpa syarat. Inilah mungkin salah satu bagian film yang paling bikin sesek.

Kehidupan mereka yang damai akhirnya terusik ketika sekolah Lucy menghubungi dinas sosial untuk mengevaluasi Lucy dan ayahnya. Kecerdasan Sam yang hanya setara dengan anak umur 7 tahun dianggap tidak cukup untuk memberikan semua hal yang dibutuhkan Lucy. Sam pun harus rela melepas Lucy yang kemudian diambil alih oleh Dinas Sosial.

Setelah ini, muncullah sosok Rita Harrison, pengacara yang ditemukan Sam dari yellow pages. Pengacara mahal yang terpaksa mewakili Sam karena gengsi di hadapan teman-temannya. Bagi Rita, kasus Sam tak lebih dari kasus pro bono yang tak terlalu penting. Alih-alih, Rita kemudian ikut terlibat lebih dalam dengan Sam dan Lucy. Membuatnya ikut mengevaluasi dan memertanyakan apa yang sudah ia perbuat dengan anak lelakinya sendiri.

Sean Penn, Michelle Pfeiffer dan Dakota Fanning. Kalau sudah menonton film yang digawangi banyak pemain bagus seperti ini, saya selalu merasa amat puas. Kualitas acting ketiganya tak perlu diragukan lagi, bahkan Fanning yang masih kecil (tapi memang Dakota Fanning bersinar banget pas masih kecil).

Saat Sean Penn dan Michelle Pfeiffer beradu akting sebagai Sam dan Rita, sambil berurai airmata, saya membatin,

“Damn you two … why are you this good?”

Untuk pecinta film seperti saya ini, akting pemain yang mantap, dan cerita yang kuat sudah bisa membuat hari-hari terasa lebih mudah untuk dijalani.

#eeaaaa

Posted in Buku, Romance

Eleanor and Park

5579840._SX540_

picture is taken from here

 

Title : Eleanor and Park

Year : 2012

Writer : Rainbow Rowell

Genre : Romance

 

I came across this book last week. Saw it on my friend’s desk and I texted her to tell that I borrowed it. Something that they still teased me for not asking her first. Well, the thought of her as a good friend that made me feel okay haha.

So anyway,

I knew this book way way before I had chance to read it. However, back then, I always thought that this book would be too teenager-ish, if you know what I mean. Although I read another book by the same author, “Fangirl.”

It turned out that I only need about 4-5 hours to finish the book, since it was really, really interesting. The book is good. One of the best young adult book I’ve ever read. The sigh I let out after finishing the book is the kind I usually had when a good book has come to the ending and I, as a reader, never want it to be finished.

Eleanor was a 16 young girl, came from a deranged family. She lived in a small house with 4 siblings, her mom and her stepdad who liked to beat up her mom whenever he liked. Eleanor never had any proper clothes or nice pair of shoes or good things. She always wore hand-me-down clothes; men’s shirt, baggy jeans, and other outfits that always looked ‘crazy’ on her.

Park, on the other side, was a 16 years old boy, who loved to listen to music and wanted so bad to become invisible. Park’s mom was Korean, and he took after her mom than his dad. Park always felt that his dad disappointed at him, of how not-so-manly type he was. Although he already enrolled for taekwondo lesson since he was in kindergarten.

Eleanor and Park’s life came entangled when they had to sit next to each other in the school bus. As you may see, you get a love story from here. The girl was unhappy, bullied in school. The boy still tried to figured out what life he wanted to have. They talked to each other, they laughed, they argued, they loved each other.

Yes, this is just another love story. But no, Rainbow Rowell (that is the author) made it not cheesy as any other love story. This book made me feel attached. Silly, I know …for my age especially wkwkwkwkw.

But seriously, dude. If you want to feel how is it to be sweet and in love (again or not, I don’t know), read this.

I ended up thinking about this book for quite a long time. Some ordinary story in a nicely package.

and when I spent some times, later; watching (and re-watching) some romantic movies, that will at least, gives you the idea of the book’s effect, won’t it?

Overall, I am glad that I read this book. Been a long time since I read a really nice romantic book. Seriously.

 

Posted in Film Hollywood, Thriller

13 Sins

13-sins-redband-trailer

gambar diambil dari sini

 

13 Sins (2014)

Director : Daniel Stamm

Cast : Mark Webber, Devon Graye, Rutina Wesley

Genre : Thriller

************** SPOILER ALERT **************

 

Ini  adalah film orang-orang putus asa, 13 Sins. Rated R untuk adegan kekerasan dan bahasa vulgar.

Eliott, seorang salesman rendahan memiliki beban hidup berat. Tidak hanya harus menanggung biaya panti jompo ayahnya yang sudah sepuh, ia pun mesti mengurus adik laki-lakinya yang berkebutuhan khusus. Tak cukup sampai di situ, suatu hari, Shelby, sang tunangan, mengabarkan kehamilannya. Otomatis Eliott harus bertambah pusing karena pernikahan yang harus diurus.

Hidup di bawah tekanan berat, plus utang-utang yang menumpuk membuat Eliott hampir putus asa. Suatu hari, seseorang meneleponnya. Mengabarkan bahwa Eliott terpilih menjadi peserta game show berhadiah jutaan dolar. Jangan salahkan Eliott jika ia kemudian setuju untuk ikut bermain. Hidup ini susah. Kesempatan baik takkan datang dua kali, begitu pikirnya.

 

Si penelepon hanya mengatakan bahwa Eliott harus menyelesaikan 13 instruksi. Tugas pertama adalah membunuh seekor lalat yang nemplok di dekatnya, hadiahnya seribu dolar. Gampaaaaang … easy money. Kapan lagi sih bisa begitu.

Tak dinyana, tugas kedua adalah menelan lalat yang tadi ia bunuh. Euughh, mual sih, tapi demi dua ribu dolar yasud telan saja.

Padahal, eh di tugas-tugas berikutnya ternyata makin lama makin aneh dan makin berbahaya. Eliott kemudian menjadi kecanduan untuk melaksanakan tugas demi tugas, meski itu artinya nyawa yang harus ia hilangkan, lebih besar dari sekedar seekor lalat.

Saya bilang film ini satu tone dengan dua film sebelumya, karena temanya sama. Mengupas sisi gelap manusia yang diberi umpan berupa keadaan putus asa.

Jika anda ditawari uang 10 juta untuk membunuh cicak yang nempel di dinding rumah, mau tidak? 10 juta looh, dan cicak itu hewan yang ga gampang punah, mati satu temennya masih banyak.

Nah, kalo Anda sudah mau membunuh cicak, bagaimana jika ditawari 40 juta untuk bunuh tikus yang suka curi-curi makanan di dapur? Mau kan? Jiaaah cuma tikus, ga berguna. Bikin bau.

Trus, satu milyar untuk berlagak gila di depan Pak RT? Mau?

Trus, 5 milyar untuk mencuri jemuran tetangga?

10 milyar untuk membunuh musuh Anda?

Kira-kira begitulah premis ceritanya.

Sebagai manusia beradab pasti kita semua akan menggeleng. Nehi yaa .. kita kan makhluk bermoral, apaan bunuh-bunuh .. semua makhluk hidup itu ciptaan Allah, tauu.

Oh ya? trus kalo hidupmu berantakan? banyak utang? dikejar-kejar debt collector serem, gimana? sementara ayah jompomu ga mau tau dan banyak menuntut.

lelaaaaah …

Makanya jangan salahkan Eliott kalo kemudian dia terjebak hiks hiks

Menonton film ini, kita dibuat sadar bahwa hey, uang bukan segalanya, meski segalanya membutuhkan uang. Realitas dan imajinasi liar hanya setipis celana dalam harga 10 rebu tiga. Hidup sungguh pedih, dan terkadang jalan tersulit dan dilematis yang terpaksa ditempuh.

Ketiga film yang saya ulas malam ini memang menampilkan kekerasan. Namun sesungguhnya ketiganya menyelipkan kepedihan. Betapa manusia begitu mudah rapuh sekaligus gampang meledak.

juga membuat saya sadar bahwa psikopat bisa saja lahir setiap hari, dari hal remeh temeh yang terkadang sulit diterima akal.

Begitu.

Posted in Film Hollywood, Thriller

The Experiment

theexperiment

gambar diambil dari sini

 

The Experiment (2010)

Director : Paul Scheuring

Cast :  Adrien Brody, Forest Whitaker, Cam Gigandet

Genre : Thriller

*********** SPOILER ALERT ***********

 

The Experiment aslinya adaptasi dari film Jerman berjudul sama Das Experiment (2001). Bercerita tentang 26 pria pengangguran dan yang sedang butuh uang. Mereka ditawari bayaran uang banyak asal mau menjalani serangkaian eksperimen yang dilakukan sebuah perusahaan tertentu. Untuk bayaran sekian ribu dolar, siapa sih yang ga mau. Cuss lah mereka diberangkatkan ke sebuah tempat terpencil dan terisolir dari dunia luar.

Tiba di tempat karantina, mereka dibagi ke dalam dua kelompok peran. Role play begitulah. Satu kelompok jadi sipir penjara, satu kelompok lagi jadi narapidana. Horeee  …  main peran kita, nanti kita saling akting marah-marahan yaaa, begitulah yang ada di benak para peserta, awalnya.

Bermain peran yang tadinya cuma haha hihi ternyata berkembang menjadi sesuatu yang serius. Eskalasi ketegangan meningkat semakin hari karena para sipir ternyata diberikan privilege lebih dibanding para narapidana. Yang terjadi kemudian, lagi-lagi survival game. Siapa yang kuat, dia yang menang. Saya bunuh kamu duluan, daripada kamu bunuh saya.

Film ini mengerikan karena menyajikan contoh nyata bagaimana manusia begitu gampangnya berubah. Disodori uang, menjadi motivasi kuat. Diberi kekuasaan sedikit, hasrat showing power menggelora. Para subyek eksperimen di sini sudah lupa bahwasanya mereka sedang main peran. Yang ada, mereka ‘memerankan’ karakter yang diberikan secara nyata. Para sipir jejadian yang bengis dan diktator. Para narapidana bohongan yang jadi korban bullying setiap hari sehingga muak dan memutuskan untuk membalas.

Jangan tanya apakah ini aman tidak untuk anak di bawah umur. Sedangkan yang dewasa saja, mungkin bisa ga kuat lihat manusia berubah bentuk jadi predator berakal yang buas.

Jika kamu kuat lihat yang agak-agak brutal bin sadistik, tonton saja. Yang menarik, ya itu tadi. Manusia memang gampang dikendalikan, gampag diberi umpan, gampang diprovokasi. Makanya jangan heran sama orang-orang yang cepet banget naik emosi, kesulut sedikit bakar! kesel sedikit, bunuh! Kadang hanya butuh sedikit porsi saja motivasi untuk memunculkan wujud asli barbarnya manusia.

Karakter ke 26 manusia di sini juga semua tipe manusia kelas dua yang desperado. Perjaka tua yang tinggal di rumah ibunya dan dibully setiap hari. Orang-orang yang terlilit utang piutang dan butuh uang cepat dalam waktu singkat. Benar-benar definisi kekufuran dekat dengan kekafiran.

#edisiSyariah